Selasa, 30 September 2014

Ibu, Anak, dan Ibu Susu

Siang ini, selasa 30 September 2014. Sepulang jam sekolah, aku dan abang menuju rumah temannya, beserta kubawa ade' dalam kereta dorong. Cuaca terik, namun tak menyurut langkah untuk batal pergi. Untuk apa? Ngambil seekor kucing (terlantar, beritanya) mumpung ada yang mau adop. Karena beliau jauh-jauh dari Buah Batu bersedia ngambil ke Cinunuk demi kitten.

Niatnya aku mau ambil seekor, ternyata pas nyampe di tempat. Tersuguh pemandangan yang haru. Kitten yang umur tiga bulanan masih pada nyusu induknya. Akhirnya empat kitten plus satu induknya kubawa ke rumah. Whatever tentang 'marah' abi. Asbab di rumah sudah ada lima kitten usia sebulanan yang di-rescue.

Papanasan berjibaku membawa lima kucing yang ditempatkan di kardus, kuletakkan di bawah jok ade'. Di tengah perjalanan si induk melompat keluar, namun terus saja mengikuti gegas langkah kami. Di matanya, dalam ngeong suaranya, kurasakan kasihsayang ibu.

Setelah sampai di rumah, si induk di sambut lima kitten sapi (kusebut begitu karena warna mereka laiknya sapi perah), masyaAlloh, ia bersedia menyusui kitten sapi :,)

Oow, manusia... Bagaimana yang di antara kalian tega menelantarkan anakanak kalian? Malu kiranya pada induk kucing yang kukisahkan.

Minggu, 28 September 2014

Kembalinya Honey

Lima hari sejak 'ngilang'nya Honey, tiap hari tiap malam. Ngareeep terus, aku mau Honey pulang ke rumah ini, yaa Rabb.

Dan kamis itu selas maghrib aku khatamkan 1 juz quran (rutinitas, target tilawah) pas banget khatam juz, aku menuju saklar untuk menyalakan lampu teras.

Seperti kudengar khas suara Honey yang agak serak. Ah, halusinasi. Mungkin rinduku demikian tinggi. Eh, tapi suara itu terdengar lagi. Pas banget depan pintu.

"Honey..." aku mencoba memanggil, hatipun sukacita, membuka pintu segera setelah mendapat sahutan khasnya.

"Aaa... Alhamdulillaah! Abang, Honey pulang!" teriakku pada sulung. Sertamerta Honey jadi rebutan antara aku dan abang Riyadh.
Senangnyaa^^

"Dari mana Honey, teh... Umi? Kenapa jadi enteng badannya?" meski senang Honey pulang, kami sedikit sedih. Ada luka di badan Honey. Segera kubuatkan setengah piring nasi pindang, (kesedihan lain RIPnya Kuchi :(, sehari sebelum Honey kembali).

Honey menyantap dengan lahap, selesai makan kuobati lukanya. Seka dengan air garam, kemudian kuberi betadine. Dokter hewan di mana, tidak tahu dan mungkin biaya tak terjangkau. Abi yang kukabari kepulangan Honey dan kondisinya, menghibur, "Kucing itu bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Dia akan menjilati lukanya."

Benar saja, selesai kuobati malah dijilati lukanya. Begitu terus, sebentar sebentar 'gadis' itu menjilati luka. Besoknya memang mulai mengering dan mengecil ^^.

Butuh seminggu kesembuhan Honey, rambut pada bekas lukanya jadi botak. Semoga numbuh lagi, Honey... tapi kamu tetap cantik :)

Jangan ngilang lagi, Honey. Jangan mau kalau diajak orang, cakar aja atau gigit sekalian kalau ada yang mau bawa kamu. (Aku dan abi yakin Honey dikandangin sama orang, karena sepulangnya Honey berubah sikap dan kebiasaan.)

Ada apa dengan Honey? Baca di lain kisah, yaa ^^ Paw, Honey Minjee...


Senin, 08 September 2014

Husnudzon? Tentang Kepergianmu

Sabtu, 7Sept2014 ; mendekati waktu maghrib. Aku 'menyingkirkanmu' sementara di garasi, asbab ikut nimbrung tamu yang hendak makan malam.

Ba'da maghrib, kau ikut keluar ketika abi mengeluarkan motor untuk mengantar tamunya pulang. Terakhir, kulihatmu. Nggak ada firasat, karena kamu sudah biasa main ke luar.

Tengah malam, kuterbangun membuatkan makan untuk Kuchi yang mengeong, pun untukmu. Mengetahui tak ada dirimu, kubuka pintu garasi. Biasanya begitu mendengar suaranya, kau langsung datang. Kutunggu dan kupanggil namamu, tak juga muncul. Ah, kekawatiran mulai merasuk.

Shubuh pun tak kudengar suaramu, biasanya kau menyusul ke kasur. Hiks, pasti terjadi sesuatu. Tidak mungkin kau pergi sendiri.

Sepagian disela aktifitas, kumemanggilmu. Berharap kau datang dengan remahan dedaun yang mengering. Pertanda kau baru saja dari kebun sebelah.

Sediiih, aku berbaik sangka saja. Kau dibawa salah seorang yang tertarik dengan kecantikanmu, membawamu pulang kemudian mengurusmu dengan kasihsayang.

Hingga kutuliskan ini, di manapun keberadaanmu, Honey. Aku berharap kau baik baik saja. Bila merindukanku, maka kembalilah ke rumah. Aku minta maaf, untuk ketidaksempurnaanku dalam menyayangimu.

Sungguh, aku masih berharap bisa melihatmu lagi
Lovely my Honey Minjee

Peluk jauh dariku, Honeyiiii

Jumat, 05 September 2014

Kuchi, Sementara di Sini

  Whoala, pulang dari masjid, anaknya teman sekaligus tetangga, bawa pulang anak kucing. Mamanya yang geli an sama anakanak (bebek, ayam, kucing) karena kelemb
utan mereka ^^ nggak ijinin tuh anak kucing di rumah.

  "Kasihan, Mamaaa."

    Baiklah, akhirnya tuh anak kucing kuamankan ke garasi, karena dia wira wiri di jalanan depan, neduh di bawah gerobak mang bakso. Ish, gimana klo mamangnya nggak lihat, trus kegeleng?
Udah cakep ^^

     Ketika si 'penemu' ke rumah kutanya,

"Kasihaan, aku nemu dia di selokan sebrang masjid." yang kutau memang dalem dan lebar buat ukuran anak kucing.

      Ok, keciil tinggallah dulu di sini. Hmm, panggil kamu siapa yaa... Kuchi, akhirnya kusematkan nama itu. Biarin kamu nggak imut, nggak lucu, nggak cakep, nggak sempurna (kaki kanan belakang pengkor) just stay with us. Sampai kamu bosan dan bisa cari makan sendiri. Setidaknya kamu bisa lari cepat saat ada manusia yang hendak jail dan jahat.

Mandi pertama, ntar klo dah gede boleh nangkring2 di situ

So, sejak itu Kuchi nemenin 'kakak' Honey Minjee, kucing rumah kami.Kakak apa tante, ya?^^

Biasa... awalawal berdua klo ketemu tabok tabokan tuh, cecerewetan. Kesini sini mah, doyan main bareng. Kadang toshtosh an pake kuku ^^ .

    Yang rukun kalian berdua, klo Kuchi betah di sini... semoga jadi anak ganteng dan gagah :-)
Main bareng tante Hani^^