Sabtu, 13 Agustus 2016

Generasi Terakhir

Namanya Olei, aku menyebutnya generasi terakhir, karena disinyalir Olei adalah anak dari Mumu (Mueza) yang sudah meninggal sebelum Olesi lahir. Dan mama Catty disteril saat usia bayi-bayi genap dua bulan. Olei dua bersaudara dengan Alou a.k.a Alor. Olei adalah kakak cantik, dan Alou si ade' ganteng^^ Mereka lahir di bulan Maret hari ke 18 tahun 2016, kisaran pukul 20:00-22:00 Bagiku, Olei seperti a gift from my Lord. Karena abang Riyadh pingin punya mpus gondrong, tapi nggak pake beli. Kan, adopt don't buy hehe... Nggak nyangka, setelah dulu kehilangan Honey yang agak gondrong, sekarang punya mpus gondrong "alami" Nha, Olei belum sempet nih disterilin, belum ada duitnya hihi.. semoga Olei sehat terus sampai tua, dan selalu bersama kami. Aamiin...

Senin, 20 April 2015

Ngayaleun

Nulis lagi untuk Rumah Ronin Mumpung belum DL^^ semangaaaad! Ganbatte! Ahad kemarin 19 April 2015, suami berangkat kerja. Aku sudah minta ijin untuk jalan-jalan ke komplek. Sip, diijinkan. Niat awalku memang untuk mencari Honey, begitulah yang kubilang ke abang, jadi kita akan jalan kaki (menempuh jarak kurleb 3 km), pada anak yang belum genap 6 tahun, dan mendorong stroller ade' yang hari itu pas milad/ultah satu tahun. "Kita nggak bawa rio? Nanti kalau Honey ketemu gimana bawanya?" tanya abang. "Kalau Honey ketemu, nanti kita minta karung ke orang. Kalau bawa rio, gimana bawanya? Abang nggak kuat nenteng, umi yang bawa? Abang belum pinter dorong stroller..." Dan jadilah kami berangkat. Naik turun jalanannya dan kudu nyeberang jalan raya. Whatever, umi belum mau menyerah untuk Honey. Kukurilingan dari blok ke blok, setiap melihat sosok mpus hati tersirap, banyak ketemu mereka entah stray entah berpunya. Syukurnya kondisi mereka cakep-cakep. Kurasa warga di sana banyak yang peduli, seenggaknya tidak menyakiti. Kurang lebih selama dua setengah jam, tidak jua bertemu Honey. Sempat mampir di sebuah rumah yang punya mpus, karena abang terpesona dengan babies-nya. Kutanya apa pernah melihat calico dengan ciri-ciri kusebutkan pada teh Lisda, empunya rumah. Lumayan lama kami diam di sana, membiarkan abang bermain dengan bayi-bayi mungil yang gendut dan lucu. Kalau saja belum ada yang minta, abang akan diberi satu. Akhirnya mengingat waktu yang beranjak siang, kami teruskan perjalanan ('kan emang jalan-jalan yak^^) "Ckk, Honey di mana sih? Nggak ketemu wae..."keluh abang. "Sabar, Bang. Yuk, jalan lagi sekalian pulang." Hingga akhirnya kami dipertemukan dengan segumpal rambut putih yang sedang grooming dan sunbathing di pinggir selokan. "Iiih, comel. Kita bawa, yuk?" abang tanpa bi dan bu segera menghampiri, tapisi kitten kabur seketika ke rumpun di sebelahnya. Aku mengulurkan tangan,ia pasrah. Kuketuk rumah gedong di depanku, menanyakan kepemilikannya. Bukan. Kutanya bocah di teras rumah yang berseberangan. "Da, dia nakal. Suka nyuri makanan." :( "Ada mamanya atau sodaranya?" "Nggak, sendirian. Mamanya mati." T.T "Boleh ibu bawa?" "Sok aja." Dan pulanglah ia bersama kami, repot juga bawanya. Tadinya kumasukkan kardus boleh minta di warung, tapi dia keluar lagi dan lagi. Kumasukkan ke dalam tas ade', gigit-gigit pinggangku dan nongol2in kepala. Akhirnya kudekap dibahuku, tak peduli orang-orang memandang sepanjang kami berjalan. Entah apa pikir mereka. "Harusnya kita beli tas yang kayak punya teteh teteh yang kita baca itu (abang baca blog pas Mimi jalan-jalan ke Pet Park)." "Uangnya belum kumpul, Bang. Da kepake terus buat beli maem sama pasirnya Honda." Iya juga sih, tas kucing punya Ronin praktis, emm... lebih keren kalo yang jendela samping salah satu sisinya untuk kantong minuman/botol. Jadi tambah praktis 'kan buat jalan-jalan? Heheu pis, Om Naga^^ Sampai jalan raya kuputuskan untuk nyarter angkot ke rumah. Kasihan anak-anak sudah papanasan. Aku dan abang saling bertanya, "Nanti gimana kalau abi nggak bolehin bawa pulang mpusnya?" "InsyaAlloh, boleh." kataku. Alhamdulillaah, pas abinya pulang lihat kitten bilang nggak boleh. "Pleaseee...buat temen Honda. Sama kok." Besoknya, "Mandiin tu mpusnya, dari antah berantah gitu, ntar diajak main anak-anak, ke kasur..." kata si abi. Horeee, punya keluarga baru. Si Abi juga udah nanya-nanya dikasih nama siapa mpusnya. Mmm, masih belum nemu.^^ Cocoknya dikasih nama siapa nih ya?

Sabtu, 18 April 2015

Tas (dan) Kucing

Well, malam ini mau nulis untuk ikutan acaranya ibu meonk dan om Naga. Good luck for me^^ Berkenaan dengan tema yang tertera adalah tas dan atau kucing, maka aku akan tulis keduanya. Sebagai perempuan, pada umumnya seneng laah koleksi tas tas gitu, kayak kedua adik perempuanku begitu. Apalagi sekarang banyak model pilihan, makin bingunglah mereka pilah pilih yang mana. Sementara aku woles aja, karena dari dulu memang nggak demen sama sesuatu yang fashionable, terlebih bab tas perempuan. Tas buat pergi kondangan saja boleh dikasih dari adik, itupun nganggur di lemari karena nggak pernah digunakan. Lebih simpel bawa dompet lipet, kalau lagi males megang ya tinggal dimasukin ke tas pinggang kecil (itu juga bonus dari beli backpack Eig** punya suami). Pokoknya urusan per-tas-an aku nggak ribet, eh atau malah rempong kali ya. Karena aku maunya, tas cukup satu tapi yang enak dan nyaman dipakai,kuat,muat banyak, kudu backpack. Karena praktis, proporsional untuk beban pundak, nggak khawatir nyangkut kemana (bisa jadi 'kan,kalau pakai tas slempang?). Dan sudah lima tahun setelah menikah, aku belum keturutan buat beli backpack, keburu dapet lungsuran dari suami yang ganti tas untuk bawa bento ke tempat kerja. Alhasil, setia selalu dengan backpack yang resletingnya sudah recovery heheu. Terus, apa hubungannya sama kucing? Sabar laah... Begini,ngomongin makluk berkaki empat yang selalu menggemaskan itu seolah bingung mulai dari mana. Pastinya, aku suka mereka. Entah pada taraf sekadar suka (kurasa bukan), cinta, atau sayang? Biarlah mereka yang menilainya. Pokokna mah its something happen in my heart for them. Jadi, setelah menikah syukur alhamdulillah aku bisa dan boleh mengurus mpus di rumah, yang berarti tuhan mengirimkan pasangan yang juga penyayang pada sesama makluk, untukku. Entah sudah berapa kali mereka datang pergi silih berganti, karena memang kami nggak pernah mengakuisisi kucing-kucing yang ikut tinggal di rumah kami. Sejauh kami bisa memberi pakan dan tempat bernaung mereka, sesekali mandiin yang bisa dipegang. Itu selama kami jadi kontraktor rumah. Setelah diberi rizki rumah sendiri, kami malah nggak punya mpus. Kucing yang sudah terlanjur disayangi di kontrakan dulu tidak kepikiran untuk kami bawa. Karena di sana kami tidak perlu khawatir, ada nenek sebelah yang notabene cat lover yang bersedia feeding stray. Dan lambat laun akhirnya rumah kami ada yang mengunjungi, ikut berteduh, ada yang sekadar numpang beranak, setelah anaknya besar pergi bersama anak-anaknya. Ada yang setelah anaknya besar ditinggalin begitu saja, hingga akhirnya si anak pun tumbuh besar kemudian mengembara.Dan tak satu dua kali kami mendapat kiriman kitten yang sengaja dibuang tanpa induk. Hingga suatu ketika, setelah beberapa lama tak ada satwa-satwa lucu di rumah kami. Terdengar rengekan dari kebun kosong di sebelah, kudapati kitten usia 2-3 bulan, lehernya terjerat benang gelasan. Panik, dan menangis karena takut tak bisa kuselamatkan sebab hampir tak ada celah untuk memutuskan benang. Syukurlah, dengan sedikit memaksa, bisa dipotong dengan gunting. Ia pun tumbuh semakin besar dan lucu, kami putuskan untuk menjadikan hak milik. Kami memanggilnya Zumi Cemong.
Zumi sahabat anakku, juga menjadi bagian keluarga. Kami menyayanginya. Hingga pada Januari tanggal satu dua tahun yang lalu, Zumi menghilang, yang kami yakin dibawa orang, karena beberapa hari sebelumnya kepergok seseorang mengelusnya dengan penuh minat. Kesedihan putraku yang begitu kehilangan sahabatnya, menjadikan beberapa ibu-ibu wali murid menghadiahi kittens. Ada yang memang kitten stray yang tak dikehendaki tinggal, hingga diberikan pada kami. Kunamai Hachi Mao,setelah kepergian Himengmeng ke RB akibat diserang garong tanpa setahu kami. Kemudian Honey menyusul menjadi makluk cantik ke-dua setelahku di rumah^^ menemani Hachi Mao. Nhah, dari sinilah terhubung kisah tas dan kucing. We love so much with Honey, especially me. She's a nice girl, sweety girl. Cause it we call her, Honey.
Seiring waktu Honey semakin tumbuh besar dan sehat, semakin cantik. Pernah hilang selama seminggu, sedih namun aku pasrah. Hingga seminggu kemudian selepas senja kudengar suaranya, kubuka pintu. Benar saja, Honey-ku kembali. Meski dengan sebentuk luka. Kurawat gadisku, pun ia mengobati lukanya sendiri hingga akhirnya sembuh dan sehat kembali. Bersama itu pak Walkot Bandung meresmikan Pet Park. Dan aku bilang padanya, "Honey, kita jalan-jalan ya, ke sana. Nanti kita bawa tas dari om Naga, nunggu kencleng minda cukup dulu."
Ketika itu di rumah juga ada abege ganteng, si anak sapi Honda. Mereka begitu akur dan saling menyayangi. Lalu... A bad news was came. Aku sedang tidak di rumah, mendapat kiriman picture. "Honey dititip ke tante warung di komplek, insyaAlloh makannya dicukupkan." Seketika terasa ada yang terhenti di tenggorokan, mengganjal air mata untuk tidak keluar, sampai pulang ke rumah hingga malamnya air mata tumpah setengah harian tanpa suara. Akibatnya, drop. Sakit jiwa raga. Tidak pernah kurasa kehilangan yang demikian, walau kepergian Hachi Mao pada tuhannya,sebab aku tahu, dan pasti keberadaannya, tak perlu kukhawatirkan. Tapi Honey?! Seminggu, dua minggu efek kehilangan itu bahkan belum mampu tertepiskan. Setiap ingat, mata langsung berkaca-kaca. Bahkan, sampai kini aku kerap salah memanggil Honda dengan menyebut Honey. Terlebih putraku kadang berkata,"Kangen Honey, kapan nyari Honey?" Dan aku masih yakin, at one day kami akan mengajakmu ke Pet Park,Honey. Semoga tuhan selalu menjadikan rizqi berjodoh antara kita. Maaf, minda belum bisa 'menjemput'mu.
Tulisan ini diikut sertakan untuk kuis di Rumah Ronin

Selasa, 24 Februari 2015

Masih berharap akanmu

Ini malam ke lima, dan masih mengalir di kedalaman sana arus yang terus menggerus, pedih pilu. Berharap engkau mengetuk pintu, seperti biasa saat kau pulang malam-malam.

Seperti waktu itu, setelah hampir seminggu menghilang tiba-tiba kembali pulang.
Peluk terakhir Hachi Mao untuk Honey
Di samping adalah photo Hachi Mao pada malam terakhir, sebelum kepergiannya ke RB. Penuh sayang, begitulah yang tertangkap inderaku.
Seolah Hachi berkata melalui belai lidahnya.
"Biarlah aku yang pergi, lekas sehat, sehat selalu... Honey."
Demi Hachi Mao, atau keegoanku. Pulanglah Honey.
Entah, atau demikian... sejak kepergianmu, aku tidak dalam keadaan baik, hingga saat ini.
Hachi... antar Honey ke rumah ini...



Turut disertakan untuk Rumah Ronin

Jumat, 20 Februari 2015

Akan ada seseorang, memeluk dan menyayangimu

My sweety Honey,
 jajannya jauh sekali :(
20 Februari, sesaat sebelum selesai aku mengikuti kajian pekanan. Mendapati kiriman gambar ini. Entah di mana. Mungkin aku tidak/belum pernah singgah di sana.
Nothing special with that place, but some other that made me shock and tearings suddenly.
I hope that somebody will hug you, and put you in their home that more warm  than mine.
Or may be at some day we meet again. I hope so.

Miss u and always, more than mines.

Kalian memang tak akan bersama di surga, but may be...
Kalian mengantarkan kami ke surga, semoga.

However, siapapun yang membaca tulisan ini. Dan menemukan Honey, syukur-syukur membantu sterilkan, hingga membawakan padaku :,( big thx, semoga tuhan memberikan kebaikan berlipat.

Rabu, 18 Februari 2015

Hurt in my heart

Siang ini, 18 Februari.
Aku kembali meluahkan rasa lewat aksara, tentang mereka sahabat-sahabatku berkaki empat.
Mereka yang selama ini hampir setahun lebih (Honey) menemaniku, juga anak-anakku, terancam deportasi dari rumah.
Honey dan Honda sudah memberikan banyak hal. Pelajaran kasih sayang, kesabaran, kesetiaan pun kegembiraan.
Honey n Haidar, boci. Foto seadanya tanpa talent. How sweet both of them.

Lihatlah dari foto mereka? I think it's an amazing world.

Bagaimana mungkin aku akan mudah membiarkannya hidup di jalanan. Entah dia akan makan apa, memang Tuhan sudah menjamin rizqinya. Tapi bagaimana jika sampai ia teraniaya atau dianiaya manusia yang tak punya hati?

I'll survive them, as possible.

Dan Honda, abegeh usia kurleb 9 month yang masih suka ngempeng selimut itu... Aihh, si 'anak sapi' yang kami rescue kemudian menjadi teman abang, yang sudah memberikan pelajaran empati dan kasih sayang.

Deportasi dari rumah, adalah 'ancaman' yang menyakitkan buatku.
Ini guling paling hangat dan empuk, i guess^^
Honda, Honey...
Still stay with us, hingga 'pemilikmu' menjemputmu.

Minggu, 21 Desember 2014

Empati, ataukah kasih sayang nan tulus

         Ini hari ke lima sejak Honey memiliki anak-anak lucu -setidaknya menurut keluarga kami- dan menggemaskan. Pagi tadi sewaktu abah hendak berangkat kerja, 
      "Mi, Honey mindahin anaknya." Beliau berkata dari garasi, akupun menghampiri dan berpapasan Honey yang menuju rumah dengan membawa Apin pada mulutnya, menuju... kamar. Di depan lemari sudah siaga abang membukakan pintu ke tiga, padahal Honey memilih pintu pertama, namun akhirnya Honey masuk juga^^
         Satu anak berpindah tempat, Honey kembali ke kandang, menyusui Hyundai dan Hyun Jhun. Eh, kupikir mereka akan dibawa pindah juga. Mungkin ada jeda waktu, namun sampai beberapa jam Honey tidak juga memindahkan duo Hyun black. Hingga Apin menangis, mungkin haus atau merasa sendirian.
        Tak kunyana, mendengar Apin menangis, Honda nyamperin dan begitu melihat Apin jatuh, mpus cowok usia 4-5 bulan itu 'panik' menyorong-nyorong tubuh Apin, kemudian agak bingung 'menggigitnya' hendak diantar ke Honey yang masih menyusui di garasi. Baru berjarak satu meter Apin terlepas, Honda kembali 'panik' dijilati sekujur badan Apin dan kurasakan kasihsayang di dalamnya :,)
      Beberapa kali Honda melihat ke arah pintu yang menghubung ke garasi seolah memanggil Honey, tangisan Apin yang kencang berhasil memanggil ibunya. Honey pun datang dan membawa Apin ke lemari. Seolah Honda tidak mau Apin ditinggal sendirian, Apin diambil lagi dan hendak dibawa ke garasi menyusul saudaranya.
                Di depan pintu kamar bertemu Honey yang putar balik. Dan kusaksikan dua mpus itu 'rebutan' gantian membawa Apin. Hiks, betapa kasihsayang Honda sebagai 'kakak' begitu besar dan tulusnya. FYI, pembaca...  Honda bukan anak Honey juga bukan adik Honey. Honda 'hanya' stray cat buangan, yang waktu itu masih berusia dua bulanan.
               Mereka berdua -Honey dan Honda- sudah seperti tante dan ponakan, kakak dan adik. Honda juga mau 'nyebokin' ketika bayi bayi meong pup dan pee. Tidur bareng di kandang bareng Honey dan her babys. Sempat khawatir Honda memakan bayi-bayi Honey, tapi melihat itu semua. Aku tau, tak akan terjadi:,)
                 Hiks, kucing saja sebegitunyaaa... kita yang konon makluk mulia berakal...- tak perlu kutuliskan-
Honda 'gendong' Apin
Honda, bezuk Honey^^